Hening yang Mengetahui

Ruang ini memang sepi,

tak ada lagi riuh rendah suara yang beradu,

atau detak tunggu di ujung pesan yang membisu.

Hanya ada aku, dan udara yang bergerak ragu.

Dulu, jemariku adalah buruh yang paling sibuk, 

menyusun kata menjadi paragraf-paragraf panjang,

membangun jembatan penjelasan yang tak kunjung seberang,

hanya agar kau tahu cara menjaga hati yang sedang bertandang.

Aku lelah menjadi kamus bagi seseorang yang enggan membaca,

menjadi petunjuk jalan bagi ia yang tak ingin melangkah.

Maka biarlah kini sunyi ini menjadi rumah,

tempat segala lelahku akhirnya tumpah.

Sepi ini, setidaknya jujur.

Aku tak perlu lagi mendiktekan cara menghargai,

tak perlu lagi mengeja bagaimana aku ingin dicintai.

Sebab kini, di tangan sendiri,

aku sudah cukup mengerti.

Rinduku Hanya Sebatas Al-Fatihah

 

Di kursi kayu tempatmu biasa bersandar,

Kini hanya ada sepi yang menetap sabar.

Aku masih sering menoleh ke arah pintu,

Berharap langkah kakimu pulang menemui rinduku.

Dulu, duniamu dan duniaku adalah satu,

Berbagi tawa dan peluh di setiap waktu.

Kini, jarak kita sejauh langit dan bumi,

Meninggalkan jejak kenangan yang takkan mati.

Aku belajar mengikhlaskan tanpa melupakan,

Meski sesak seringkali datang tak tertahankan.

Tak ada lagi suara yang bisa kudengar nyata,

Hanya bayangmu yang masih menetap di pelupuk mata.

Kini cara mencintaimu telah berubah rupa,

Tak lagi lewat sentuhan atau tutur sapa.

Setiap kali rasa rindu datang menyesakkan dada,

Akupun bersimpuh, melangitkan doa-doa mulia.

Sebab aku tahu, hanya ini jalan yang tersisa,

Menemuimu di dalam sujud dan heningnya doa.

Tenanglah di sana, wahai belahan jiwa,

Rinduku kini hanya sebatas Al-Fatihah.

 

Sisa Kehangatan di Bulan Desember

 


Desember 2019 seharusnya menjadi bulan perayaan. Empat tahun pernikahan kami terasa seperti musim semi yang abadi. Tidak ada pertengkaran hebat, hanya tawa kecil tentang siapa yang lupa mematikan lampu atau rebutan menyuapi Arka, putra kecil kami yang baru menginjak usia dua tahun.

"Mas nanti pulang bawakan martabak manis ya?" ucapku pagi itu sambil membenahi kerah kemejanya. Ia tersenyum, mengecup keningku lama, lalu menggendong Arka tinggi-tinggi hingga bocah itu tertawa geli. Itu adalah pagi yang biasa, pagi yang harmonis, pagi yang tidak memberikan tanda-tanda bahwa dunia akan runtuh dalam hitungan jam.

Sore harinya, ia pulang dengan wajah pucat. Badannya menggigil hebat. "Hanya kecapekan, Sayang," bisiknya mencoba menenangkan saat aku menempelkan termometer di dahinya. Namun, suhu tubuhnya tidak mau berkompromi.

Malam itu, rumah sakit menjadi persinggahan kami. Diagnosis dokter terdengar kabur di telingaku karena aku terlalu sibuk memegangi tangannya yang dingin. Hari pertama, ia masih sempat mengelus rambutku dan membisikkan janji untuk segera sembuh demi Arka dan kami ingin berwista Bersama .

Di hari kedua, suasana ruang perawatan mendadak tegang. Dokter memanggilku ke lorong dengan wajah yang sangat berat.

"Ibu, segera minta keluarga menjemput putra Ibu. Bawa dia ke sini sekarang juga untuk bertemu ayahnya selagi masih ada waktu," ucap dokter dengan nada rendah yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

Aku gemetar, mencoba mencari pegangan pada dinding rumah sakit yang dingin. Dokter memegang bahuku, mencoba menyalurkan kekuatan yang sebenarnya sudah runtuh. "Ibu harus sabar dan bersiap dengan segala kemungkinan. Kondisi suami Ibu sangat kritis. Di otaknya sudah terlalu banyak gumpalan darah yang pecah. Dan kondisi jantung sudah tidak berfungsi. Saat ini, peluang hidupnya hanya tinggal 50%." Aku hanya menunggu angka di monitor dengan tatapan kosong sampai angka berubah 0 dikuti garis lurus Panjang dan bunyi bip panjang tanpa henti

Duniaku runtuh seketika. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan vonis yang mencekik napas.

Tak lama, Arka tiba. Bocah dua tahun itu masuk ke kamar ICU dengan wajah polos, tidak mengerti mengapa ayahnya terbaring diam dikelilingi kabel-kabel rumit. Aku menuntun tangan kecilnya untuk menyentuh tangan ayahnya yang mulai dingin. Itu adalah pertemuan terakhir yang singkat, namun terekam abadi dalam ingatan.

Hanya butuh 48 jam bagi takdir untuk mengubah statusku dari seorang istri yang bahagia menjadi seorang janda dengan balita di pelukan. Saat dokter akhirnya menarik kain putih itu menutup wajahnya, duniaku benar-benar berhenti berputar. Desember yang biasanya dingin karena hujan, mendadak membeku karena kehilangan yang teramat dalam.

Tujuh tahun telah berlalu sejak kepergiannya yang mendadak itu. Kini, tahun 2026, Arka sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang gagah. Ia memiliki sorot mata yang sama persis dengan ayahnya teduh dan penuh kasih.

Setiap kali aku menatap Arka, aku melihat suamiku yang terus "hidup". Rumah kami memang tak lagi memiliki suara tawanya, tapi kehangatan yang ia bangun selama empat tahun pernikahan itu menjadi fondasi bagiku untuk tetap berdiri tegak. Aku belajar bahwa mencintai tidak harus selalu memiliki raganya.

Seringkali, di malam-malam sepi, aku masih duduk di sudut sofa tempat kami biasa berdiskusi tentang masa depan. Aku teringat betapa singkatnya waktu yang kami miliki, namun betapa dalamnya bekas yang ia tinggalkan.

Kehilangan ini tidak lagi terasa seperti luka yang menganga, melainkan sebuah ruang sunyi yang aku isi dengan syukur. Aku bersyukur pernah dicintai olehnya, meski hanya sebentar. Dan di atas sajadah, aku selalu menemukan cara untuk pulang menemuinya. Karena sejauh apa pun ia pergi, rinduku akan selalu sampai lewat baris-baris Al-Fatihah.


~Hanya memastikan bahwa raga sudah memeluk takdir~ 

Halaman Terakhir tahun ini



Tahun ini hampir selesai 

Aku bangga pada diriku yang sudah berusaha sekeras yang aku bisa 

Meski beberapa keinginan masih belum sesuai harapan 

Namun aku bangga, bisa percaya dan melibatkan Allah dalam setiap langkahku.


Semua yang ku lewati... 

Membuat aku belajar tentang arti menerima 

Menerima ketentuan yang tidak bisa aku paksakan sesuai yang aku mau 

Melainkan memahami tentang ketentuan yang Allah mau


Aku bangga, aku bisa menjadi lebih bijak

Menerima bahwa diriku tidak selalu kuat,  

Adakalanya aku terlena dalam tangis 

Dan aku selalu menyakinkan... Tak apa.. 

Aku hanya manusia, menangis lah jika ingin menangis setelah itu kembalilah tersenyum 


Aku selalu berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak sendiri ada Allah yang menemani. Semua yang aku alami adalah bagian proses yang akan mengantarkan akuke titik yang lebih baik lagi 

Doaku.. semoga tahun depan menjadi tahun yang bahagia untuk ku, untuk anak ku, dan untuk semua orang terdekat ku 

Tentang rindu

Akan terlalu sia sia saat aku mengatakan aku merindukanmu, 

mengingat mungkin hanya aku saja yg mempunyai rindu 

Aku meredam ego agar kamu tak terusik dengan bisingnya isi kepalaku

saat ingin menyuarakan rindu itu 

Disisi lain aku pun takut jika semua perasaan itu berbalik menjadi bom waktu

serupa dendam dan sesal yang tak berkesudahan 

Sekuat apapun menahan 

Rindu selalu butuh tempat untuk melampiaskan

jadi saat aku tak mampu mengungkapkannya 

ku teriakan segala rasa itu dalam hening nya doa 

@puncak_lara


Patah hati sekali lagi

Mari bergandengan tangan bersama-sama saling menguatkan 

Sedih sudah pasti, tangispun tetap mengiringi .. 

aku ditinggal orang yang paling disayangi sekali lagi 

Hanya saja kali ini aku jauh lebih kuat dan jauh lebih tegar 

Kenapa begitu? Aku hanya mencoba menerima. beginilah hidup, ada yang meninggalkan dan ada yang ditinggalkan. 

Dan aku kembali menjadi salah satu yang ditinggalkan

Sebelum ini aku pernah ditinggalkan orang terkasih, teman seperjalanan, teman dalam rencana sehidup semati.

hanya saja rencana kami berbeda dengan rencanaNya. bagaimana rasanya ditingglkan pada saat itu? 

Tentu saja hati begitu hancur, apalagi melihat bocah yang masih belum mengerti kalau status dia sudah berganti. 

Rasanya aku ditinggal di tengah jalan sendirian, tak tahu arah dan tujuan, bagaimana aku melnjutkan hidup.

Bingung.... rasa itu yang begitu dominan. 

Sekarang pun sama, aku kembali ditinggal

dengan rasa yang sama tapi mental yg berbeda, entah mengapa aku menjadi jauh lebih tegar bukan karena sayang ku tak besar, atau bergantungku berkurang. 

aku hanya merasa tidak ditinggal sendiran, ada 8 tangan yang bisa aku raih, 

ada 8 pagar yang bisa aku jadikan sandaran 

Kami bisa menangis bersama. 

Kami bisa berjalan bersama.

Bukankan itu salah satu berkah saudara?


Manhia

17 September 2023/ 01 Robiul awal 1445


Kemungkinan

Bagiku kau seperti rumitnya kumpulan beberapa pertanyaan dan aku tidak mempunyai jawaban untuk menyelesaikannya 

Kenapa begitu?? Karena terkadang 

Ada hari dimana ketika aku merasa kau begitu menyukaiku 

Ada hari dimana ketika aku merasa kau biasa-biasa saja padaku 

Ada hari dimana ketika aku merasa kau acuh dan dingin terhadapku 

Aku bingung dan tak tahu harus bersikap seperti apa 

Banyak sekali kemungkinan kemungkinan yang riuh dalam kepalaku 

Sesekali menyuruhku untuk maju 

Sesekali menyuruhku untuk mundur 

Bahkan sesekali malah mengusik kalau kau hanya sekedar bermain-main dengan perasaanku.

Bayang Yang Tak Terduga

Awalnya aku begitu percaya, bahwa hatiku cukup luas untuk menerima seluruh musim yang pernah kau lewati. Kukira masa lalu hanyalah daun ya...