Ada gemuruh yang tak sempat menjadi guntur,
Ada bara yang dipaksa padam sebelum melantur.
Bukan karena lara hati ini luruh berserakan,
Tapi karena sesak yang tak lagi sanggup tertahankan.
Aku tidak sedang berduka atas sebuah kepergian,
Aku hanya sedang bertarung dengan diam yang melelahkan.
Saat amarah mendidih namun lidah dipaksa kelu,
Saat ingin mengamuk namun dunia menuntutku membatu.
Maka air mata ini adalah teriakan yang tak bersuara,
Satu-satunya jalan bagi murka untuk bicara.
Ia jatuh bukan karena aku lemah dan menyerah,
Ia jatuh karena dadaku sudah terlalu penuh oleh merah.
Biarlah ia mengalir menyusuri pipi yang hangat,
Membasuh sisa-sisa kesal yang menjerat sangat.
Sebab terkadang, menangis adalah cara paling tabah,
Untuk meredam badai agar tak meruntuhkan rumah.