Ledakan yang Mengalir Sunyi


Ada gemuruh yang tak sempat menjadi guntur,

Ada bara yang dipaksa padam sebelum melantur.

Bukan karena lara hati ini luruh berserakan,

Tapi karena sesak yang tak lagi sanggup tertahankan.

​Aku tidak sedang berduka atas sebuah kepergian,

Aku hanya sedang bertarung dengan diam yang melelahkan.

Saat amarah mendidih namun lidah dipaksa kelu,

Saat ingin mengamuk namun dunia menuntutku membatu.

​Maka air mata ini adalah teriakan yang tak bersuara,

Satu-satunya jalan bagi murka untuk bicara.

Ia jatuh bukan karena aku lemah dan menyerah,

Ia jatuh karena dadaku sudah terlalu penuh oleh merah.

​Biarlah ia mengalir menyusuri pipi yang hangat,

Membasuh sisa-sisa kesal yang menjerat sangat.

Sebab terkadang, menangis adalah cara paling tabah,

Untuk meredam badai agar tak meruntuhkan rumah.

Sujud di Ambang Ketentuan


 Di hadapan waktu yang terus melaju, 

Aku berdiri dengan tangan yang terbuka. 

Seluruh yang hilang telah aku ikhlaskan, 

Menjadi debu yang terbawa angin tenang, 

Tak lagi kucari jejaknya di tanah yang gersang.

Seluruh yang rusak telah aku relakan, 

Puing-puingnya tak lagi kususun paksa. 

Biar ia menjadi bagian dari cerita lama, 

Tentang bagaimana hancur mengajariku makna, 

Bahwa tak semua yang retak harus kembali sama.

Segala yang membebani telah aku lepaskan, 

Rantai-rantai sesak yang dulu melilit pundak. 

Kini napasku seringan kapas di udara, 

Sebab beban bukan lagi kawan perjalanan, 

Melainkan pelajaran yang tuntas kutunaikan.

Dan segala hal yang ingin pergi, 

Tak pernah lagi aku tahan dengan jemari. 

Sebab aku tahu, pintu yang tertutup di sini, 

Adalah awal dari langkah yang lebih berarti.

Lalu, takdir mana yang harus aku perdebatkan? 

Jika setiap napas dan degup adalah pinjaman. 

Sebab di ujung segala tanya dan pencarian, 

Aku sadar, segala ketentuan hanyalah milik Tuhan.

Satu Detik Sebelum Sepi


Di antara hiruk-pikuk dunia yang bising, 

Seringkali kita lupa pada detak yang masih seiring. 

Mengabaikan sapa, menunda peluk yang seharusnya erat, 

Seolah esok masih menjanjikan waktu yang berlipat.

Kita sering lupa, 

Bahwa kehadiran adalah sebuah tamu, 

Bukan sebuah kepastian yang selalu menunggu. 

Jangan biarkan egomu membisukan kata sayang, 

Sebelum segalanya hanya menjadi bayang-bayang.

Sebab kehilangan adalah pencuri yang paling lihai, 

Tak butuh izin, tak peduli jika hatimu belum usai. 

Ia datang tanpa mengetuk pintu kesiapan, 

Mengubah hangatnya tatap menjadi dinginnya kenangan.

Hargailah mereka yang masih bisa 

kau sentuh jemarinya, 

Yang masih bisa kau dengar tawa dan keluh kesahnya. 

Karena saat waktu menarik garis akhirnya, 

Tak ada lagi kata "nanti" yang bisa menyelamatkannya.


Hening yang Mengetahui

Ruang ini memang sepi,

tak ada lagi riuh rendah suara yang beradu,

atau detak tunggu di ujung pesan yang membisu.

Hanya ada aku, dan udara yang bergerak ragu.

Dulu, jemariku adalah buruh yang paling sibuk, 

menyusun kata menjadi paragraf-paragraf panjang,

membangun jembatan penjelasan yang tak kunjung seberang,

hanya agar kau tahu cara menjaga hati yang sedang bertandang.

Aku lelah menjadi kamus bagi seseorang yang enggan membaca,

menjadi petunjuk jalan bagi ia yang tak ingin melangkah.

Maka biarlah kini sunyi ini menjadi rumah,

tempat segala lelahku akhirnya tumpah.

Sepi ini, setidaknya jujur.

Aku tak perlu lagi mendiktekan cara menghargai,

tak perlu lagi mengeja bagaimana aku ingin dicintai.

Sebab kini, di tangan sendiri,

aku sudah cukup mengerti.

Rinduku Hanya Sebatas Al-Fatihah

 

Di kursi kayu tempatmu biasa bersandar,

Kini hanya ada sepi yang menetap sabar.

Aku masih sering menoleh ke arah pintu,

Berharap langkah kakimu pulang menemui rinduku.

Dulu, duniamu dan duniaku adalah satu,

Berbagi tawa dan peluh di setiap waktu.

Kini, jarak kita sejauh langit dan bumi,

Meninggalkan jejak kenangan yang takkan mati.

Aku belajar mengikhlaskan tanpa melupakan,

Meski sesak seringkali datang tak tertahankan.

Tak ada lagi suara yang bisa kudengar nyata,

Hanya bayangmu yang masih menetap di pelupuk mata.

Kini cara mencintaimu telah berubah rupa,

Tak lagi lewat sentuhan atau tutur sapa.

Setiap kali rasa rindu datang menyesakkan dada,

Akupun bersimpuh, melangitkan doa-doa mulia.

Sebab aku tahu, hanya ini jalan yang tersisa,

Menemuimu di dalam sujud dan heningnya doa.

Tenanglah di sana, wahai belahan jiwa,

Rinduku kini hanya sebatas Al-Fatihah.

 

Sisa Kehangatan di Bulan Desember

 


Desember 2019 seharusnya menjadi bulan perayaan. Empat tahun pernikahan kami terasa seperti musim semi yang abadi. Tidak ada pertengkaran hebat, hanya tawa kecil tentang siapa yang lupa mematikan lampu atau rebutan menyuapi Arka, putra kecil kami yang baru menginjak usia dua tahun.

"Mas nanti pulang bawakan martabak manis ya?" ucapku pagi itu sambil membenahi kerah kemejanya. Ia tersenyum, mengecup keningku lama, lalu menggendong Arka tinggi-tinggi hingga bocah itu tertawa geli. Itu adalah pagi yang biasa, pagi yang harmonis, pagi yang tidak memberikan tanda-tanda bahwa dunia akan runtuh dalam hitungan jam.

Sore harinya, ia pulang dengan wajah pucat. Badannya menggigil hebat. "Hanya kecapekan, Sayang," bisiknya mencoba menenangkan saat aku menempelkan termometer di dahinya. Namun, suhu tubuhnya tidak mau berkompromi.

Malam itu, rumah sakit menjadi persinggahan kami. Diagnosis dokter terdengar kabur di telingaku karena aku terlalu sibuk memegangi tangannya yang dingin. Hari pertama, ia masih sempat mengelus rambutku dan membisikkan janji untuk segera sembuh demi Arka dan kami ingin berwista Bersama .

Di hari kedua, suasana ruang perawatan mendadak tegang. Dokter memanggilku ke lorong dengan wajah yang sangat berat.

"Ibu, segera minta keluarga menjemput putra Ibu. Bawa dia ke sini sekarang juga untuk bertemu ayahnya selagi masih ada waktu," ucap dokter dengan nada rendah yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

Aku gemetar, mencoba mencari pegangan pada dinding rumah sakit yang dingin. Dokter memegang bahuku, mencoba menyalurkan kekuatan yang sebenarnya sudah runtuh. "Ibu harus sabar dan bersiap dengan segala kemungkinan. Kondisi suami Ibu sangat kritis. Di otaknya sudah terlalu banyak gumpalan darah yang pecah. Dan kondisi jantung sudah tidak berfungsi. Saat ini, peluang hidupnya hanya tinggal 50%." Aku hanya menunggu angka di monitor dengan tatapan kosong sampai angka berubah 0 dikuti garis lurus Panjang dan bunyi bip panjang tanpa henti

Duniaku runtuh seketika. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan vonis yang mencekik napas.

Tak lama, Arka tiba. Bocah dua tahun itu masuk ke kamar ICU dengan wajah polos, tidak mengerti mengapa ayahnya terbaring diam dikelilingi kabel-kabel rumit. Aku menuntun tangan kecilnya untuk menyentuh tangan ayahnya yang mulai dingin. Itu adalah pertemuan terakhir yang singkat, namun terekam abadi dalam ingatan.

Hanya butuh 48 jam bagi takdir untuk mengubah statusku dari seorang istri yang bahagia menjadi seorang janda dengan balita di pelukan. Saat dokter akhirnya menarik kain putih itu menutup wajahnya, duniaku benar-benar berhenti berputar. Desember yang biasanya dingin karena hujan, mendadak membeku karena kehilangan yang teramat dalam.

Tujuh tahun telah berlalu sejak kepergiannya yang mendadak itu. Kini, tahun 2026, Arka sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang gagah. Ia memiliki sorot mata yang sama persis dengan ayahnya teduh dan penuh kasih.

Setiap kali aku menatap Arka, aku melihat suamiku yang terus "hidup". Rumah kami memang tak lagi memiliki suara tawanya, tapi kehangatan yang ia bangun selama empat tahun pernikahan itu menjadi fondasi bagiku untuk tetap berdiri tegak. Aku belajar bahwa mencintai tidak harus selalu memiliki raganya.

Seringkali, di malam-malam sepi, aku masih duduk di sudut sofa tempat kami biasa berdiskusi tentang masa depan. Aku teringat betapa singkatnya waktu yang kami miliki, namun betapa dalamnya bekas yang ia tinggalkan.

Kehilangan ini tidak lagi terasa seperti luka yang menganga, melainkan sebuah ruang sunyi yang aku isi dengan syukur. Aku bersyukur pernah dicintai olehnya, meski hanya sebentar. Dan di atas sajadah, aku selalu menemukan cara untuk pulang menemuinya. Karena sejauh apa pun ia pergi, rinduku akan selalu sampai lewat baris-baris Al-Fatihah.


~Hanya memastikan bahwa raga sudah memeluk takdir~ 

Halaman Terakhir tahun ini



Tahun ini hampir selesai 

Aku bangga pada diriku yang sudah berusaha sekeras yang aku bisa 

Meski beberapa keinginan masih belum sesuai harapan 

Namun aku bangga, bisa percaya dan melibatkan Allah dalam setiap langkahku.


Semua yang ku lewati... 

Membuat aku belajar tentang arti menerima 

Menerima ketentuan yang tidak bisa aku paksakan sesuai yang aku mau 

Melainkan memahami tentang ketentuan yang Allah mau


Aku bangga, aku bisa menjadi lebih bijak

Menerima bahwa diriku tidak selalu kuat,  

Adakalanya aku terlena dalam tangis 

Dan aku selalu menyakinkan... Tak apa.. 

Aku hanya manusia, menangis lah jika ingin menangis setelah itu kembalilah tersenyum 


Aku selalu berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak sendiri ada Allah yang menemani. Semua yang aku alami adalah bagian proses yang akan mengantarkan akuke titik yang lebih baik lagi 

Doaku.. semoga tahun depan menjadi tahun yang bahagia untuk ku, untuk anak ku, dan untuk semua orang terdekat ku 

Ledakan yang Mengalir Sunyi

Ada gemuruh yang tak sempat menjadi guntur, Ada bara yang dipaksa padam sebelum melantur. Bukan karena lara hati ini luruh berserakan, Ta...