potret kehidupan siswa indonesia

pendidikan mungkin bukan sesuatu yang asing dan langka bagi masyarakat pada saat ini. mereka berlomba-lomba memasukan  sang buah hati ke sekolah yang berkualitas bagus dan berstandar internasional serta berfasilitas lengkap, tidak jadi masalah bagi orang tua yang mempunyai uang untuk buah hati agar mendapatkan kualitas pendidikan nomor satu, hal ini dilakukan untuk kepentingan masa depan anak. tapi tidak semua masyarakat mempunyai uang cukup untuk menyekolahkan anak mereka, mereka yang tidak mempunyai uang hanya mampu menyekolahkan anak seadanya, sekolah gratis, bebas biaya dengan semua kebutuhan skolah termasuk seragam didapat dari sekolah, karena memang mereka tidak punya uang lebih untuk itu semua, untuk makan sehari-hari saja susah apalagi untuk menyekolahkan anak sungguh sangat terbebani.mungkin dalam lingkup kota sudah sedikit yang kurang mampu, tapi ketika melihat kedesa dan pelosok masih banyak dijumpai permasalahan seperti itu putus sekolah dengan alasan bekerja untuk membatu keuangan keluarga.
tidak sedikit siswa dari kalangan yang tidak mampu memilih berhenti melanjutkan sekolah  dengan alasan ingin membantu orang tua bekerja, apalagi melihat kondisi orang tua yang sudah lanjut dan mulai sakit-sakitan,tidak hanya siswa yang bingung melanjutkan sekolah dari orang tuapun cenderung menyuruh anak untuk berhenti sekolah karena memang mereka sudah tidak mampu lagi. ada beberapa orang tua yang minim pendidikan lebih memilih menikahkan anak perempuan ketika mereka merasa sudah tidak mampu dan mungkin yang mereka pikirkan ketika anak mereka dinikahkan sedikit mengurangi beban keungan tidak perlu memikirkan biaya sekolah dan kebutuhan si anak, bahkan ada beberapa orang tua yang mengatakan pendidikan itu tidak penting apa lagi untuk perempuan, padahal pada era moderen ini tentu banyak persaingan, yang dilihat paling pertama adalah tingkat pendidikannya.
sungguh sangat disayangkan, bagaimana pendidikan di indonesia akan maju jika pengetahuan dan pendidikan minim, tapi memang tidak mudah memecahkan permasalahan diatas, pertama pendidikan itu penting tapi jika ekonomi minim apa yang bisa dilakukan? sekolah gratis? ternyata tidak banyak membantu... adanya dana BOS ? ini juga kurang efektif, artinya sama saja yang punya uang dan tidak punya uang bisa menikmati. 
lebih baik sistemnya beasiswa, yang ekonominya menengah keatas tidak dapat santunan biaya, lebih fokus ke siswa yang kurang mampu dan siswa yang berprestasi mungkin ini sedikit lebih membantu, dengan memperioritaskan siswa yang kurang mampu.
kebutuhan siswa tidak hanya yang digratiskan artinya biaya sekolah, tapi masih bnayak kebutuhan siswa yang harus dipertimbangkan dan cari jalan keluarnya misal siwa juga butuh uang saku, buku, ongkos transportasi, dari mana uang itu mereka dapatkan jika orang tua mereka tidak mampu? apa yang harus mereka lakukan?
begitulah kira-kira yang saya alami ketika saya melakukan kunjungan wali murid, saya tidak menyangka bahwa anak asuh saya tidak masuk sekolah hanya karena tidak punya ongkos untuk naik angkot, tidak punya uang jajan dan tidak ada untuk uang makan sehari-hari, saya bingung apa yang harus saya lakukan? saya tidak bisa menyalahkan keadaan tentu... apalagi melihat kondisi keluarga dan kedua orang tua yang sudah lanjut?
beginikah kondisi murid saya ? sungguh sangat disayangkan mereka yang mempunyai semangat tinggi, tekun, pintar, rajin dan tidak mau menyerah harus berhenti ditengah jalan hanya karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan, ironis memang.... sungguh sayang murid yang seperti itu harus dilepaskan.. padahal mereka cikal bakal negara kita dimasa depan...

renungan ibu...



Suatu ketika seorang bayi siap untuk dilahirkan didunia
Menjelang diturunkan dia bertanya kepada tuhan,
para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engaku akan mengirimku kedunia , tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah, “  kata si bayi
Tuhan menjawab
saya telah memilih satu malaikat untukmu, dia akan menjaga dan mengasihimu,
tapi ketika di surga yang saya lakukan hanya bernyanyi dan tertawa , ini cukup bagi saya untuk bahagia,
demikian kata si bayi
Tuhan pun menjawab
malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih bahagia
Si bayi pun bertanya kembali
dan apa yang saya dapat lakukan saat saya ingin berbicara kepada- Mu? “
Sekali lagi Tuhan menjawab
malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa
Si bayi pun masih belum puas, ia bertanya lagi
saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat, lalu siapa yang akan melindungi saya ? “
Dengan penuh kesabaran Tuhan menjawab
“ malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun”
Si bayi pun belum puas dan melanjutkan pertanyaannya
“ tapi saya akan bersedih, karena tidak bisa melihat Engkau lagi…”
Dan Tuhan pun menjawab
“ malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku. Dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya aku selalu ada disisi mu “
Saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar  dan sang bayi dengan suara lirih bertanya
“ Tuhan jika aku harus pergi sekarang, bisakah engkau memberitahu, siapa nama malaikat di rumahku nanti, ?”
Tuhan pun menjawab
“ kamu dapat memanggil malaikatmu…… Ibu……… “

sejarah seni lukis


Sejarah umum seni lukis

Zaman prasejarah

Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna.
Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.
Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar).
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan obyek-obyek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari obyek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap obyeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam obyek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.
Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.

Seni lukis zaman klasik

Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan:
  • Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama)
  • Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Pompeii),
Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang ada di alam. Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal.

Seni lukis zaman pertengahan

Sebagai akibat terlalu kuatnya pengaruh agama di zaman pertengahan, seni lukis mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sihir yang bisa menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan. Akibatnya, seni lukis pun tidak lagi bisa sejalan dengan realitas.
Kebanyakan lukisan di zaman ini lebih berupa simbolisme, bukan realisme. Sehingga sulit sekali untuk menemukan lukisan yang bisa dikategorikan "bagus".
Lukisan pada masa ini digunakan untuk alat propaganda dan religi. Beberapa agama yang melarang penggambaran hewan dan manusia mendorong perkembangan abstrakisme (pemisahan unsur bentuk yang "benar" dari benda.

[sunting] Seni lukis zaman Renaissance

Berawal dari kota Firenze. Setelah kekalahan dari Turki, banyak sekali ahli sains dan kebudayaan (termasuk pelukis) yang menyingkir dari Bizantium menuju daerah semenanjung Italia sekarang.
Dukungan dari keluarga deMedici yang menguasai kota Firenze terhadap ilmu pengetahuan modern dan seni membuat sinergi keduanya menghasilkan banyak sumbangan terhadap kebudayaan baru Eropa.
Seni Rupa menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Sains di kota ini tidak lagi dianggap sihir, namun sebagai alat baru untuk merebut kembali kekuasaan yang dirampas oleh Turki.
Pada akhirnya, pengaruh seni di kota Firenze menyebar ke seluruh Eropa hingga Eropa Timur.
Tokoh yang banyak dikenal dari masa ini adalah:

rasaku...........

rinduku terobati sudah
ketika kau datang menemuiku
rasanya laksana
bumi merindukan matahari
ketika hujan tak berhenti
ternyata.....
aku sudah mulai mencintaimu
mulai merindukanmu
mulai membutuhkanmu
dan mulai..
tak ingin kau mengabaikannku
itulah yang ku rasakan saat ini 
aku menginginkanmu
lebih dari yang kuiinginkan saat ini

mimpi semalam

mimpi itu seakan nyata 
kau genggam tangan 
dan kau rengkuh ragaku
dengan senyumanmu
kau sambut diriku
seakan aku dan dirimu
masih bersamr
sungguh nyata.......
dan seperti benar-benar terjadi
kisah lalu yang terkubur
seolah hadir dan terulang lagi
mungkinkah kau sedang memikirkanku
ataukah merindukannku?
sehingga kauhadir dalam mimpi
tanpa permisi 

februari 2014

kata mutiara


Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(QS. Al Baqarah 2:216)

cinta sejati akan menjadi milikmu, ketika kamu dan dia mampu untuk setia
ya Allah.... jadikanlah bencana dan musibah yang melanda negeri ini sebagai pelajaran dan hikmah dikemudian hari... dan berikanlah kesabaran bagi negeri kami

hidup adalah proses belajar :
- belajar bersyukur meski tak cukup
- belajar memahami meski tak sehati
- belajar ikhlas meski tak rela
- belajar bersabar meski terbebani
- belajar setia meski tergoda

Ya Allah......Peluklah hati ini di saat aku mulai merasa gelisah dalam Penantian penuh kesabaran , yang setiap waktu Hatiku merasa rindu pada dia, insan yang ku cintai dalam diamku, hayalku dan nyataku...
seorang wanita sanggup menyembunyikan rasa cinta bertahun-tahun, tapi tak mampu menyembunyikan rasa cemburunya walau sesaat

ya Allah Ya rabb....
jadikan hujan ini sebagai keberkahan-Mu
jangan jadikan sebagai kemarahan-Mu
Ya Allah Ya Rabb...
Ampunilah segala dosa dan kealfaan kami....

Orang besar bukannya orang yang mendapatkan jabatan tinggi dalam pekerjaan,
orang besar bukan orang yang bergelimang harta.....
tapi.....
orang besar adalah yang rela mengajar walaupun di pegungungan....

cinta itu penyakit, jadi sembuhkanlah sblm ia menjadi kronis....

Ketika wanita menangis, itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya, melainkan justru berarti dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya…”

“Ketika wanita menangis, itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya, melainkan karena pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya…”
“Ketika wanita menangis, itu bukan karena dia ingin terlihat lemah, melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura – pura kuat”

Sebuah hubungan akan terasa indah jika kedua pasangan bisa saling menerima bergandengan menuju kesempurnaan, bukan menuntut untuk sempurna.

ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu..

aku mencintaimu dgn sederhana...
seperti kata yg tak sempat diucapkn kayu kepada api yg menjadiknnya abu...
aku ingin mencntaimu dgn sederhana....
seperti isyarat yg tak sempat dkrmkn awan kpd hujan yg menjadikannya tiada...

indikasi bahwa orang bisa disebut guru (pendidik) yang hebat bukanlah pada kemampuannya mengajarkan murid untuk pintar menjawab semua jenis pertanyaan, tetapi pada kemampuannya menginspirasi murid agar mengajukan pertanyaan yang ia sendiri kesulitan untuk menjawabnya.

“Alasan kenapa seseorang tak pernah meraih cita-citanya adalah karena dia tak mendefinisikannya, tak mempelajarinya, dan tak pernah serius berkeyakinan bahwa cita-citanya itu dapat dicapai” (Dr Denis Waitley)

Sabar tak bisa dipisahkan dari tawakkal, karena tanpa tawakkal bukalah sabar yang sebenarnya. Sabar merupakan benteng yang kuat untuk membangun kembali kekuatan untuk meraih apa yang tertunda. Tanpa kesabaran saat ini, berarti kita tidak punya harapan untuk meraih keberhasilan yang ada di depan nanti.
ada dua pilihan utama dalam kehidupan, menerima kondisi apa adanya atau menerima tanggung jawab untuk merubahnya.

setiap te2s air mataq telah q berikan untk kisahq, mengerti tp tak dmengrti cintaq tlah dujung jalan, setiap kata dr bi2rq kadang tak sma dgn hatiq, tersenyum dlm hati menangis, cintaq tlah dujung jalan.....
Ketika seseorang cukup kuat tuk buatmu terjatuh, kamu harus tunjukkan padanya bahwa kamu juga cukup kuat tuk bangkit berdiri.

Tuhan tidak menurunkan takdir begitu saja. Tuhan memberikan takdir sesuai dengan apa yang kita lakukan. Jika kita maju dan berusaha, Tuhan akan memberikan takdir kesuksesan. Jika kita lengah dan malas, maka Tuhan akan memberikan takdir kegagalan.

Datangilah sahabatmu di saat dia susah dan lenyaplah di saat dia bahagia, karena sesungguhnya kamulah yang akan diingat di saat dia sedang susah di saat kamu membantunya

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat –Hamka

Bagi dunia kau mungkin hanyalah seseorang, tetapi bagi seseorang kau mungkin adalah dunia....

jika aku jadi air matamu,,aku kan lahir dari matamu,,hidup di pipimu,,dan mati di bibirmu,,tapi jika km jadi air mataq,,aku tak akan pernah menangis,,karena aku takut kehilanganmu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

pikirkankan lah orang yang peduli tentang kamu, jangan pikirkan orang yang sama sekali tidak peduli trehadap mu.. karena itu hanya sia-sia.....

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya

ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. namun kita kadang melihat dan menyesali pintu tersebut teralau lama sehingga kita tidak menyadari dan tidak melihat pintu yang lain telah terbuka.

Cinta menimbulkan kepedihan.
Cinta menyembuhkan kepedihan.
Dan, cinta itu adalah kepedihan.
Di mana ada cinta, maka kepedihan tak pernah jauh darinya.
Cinta akan memenuhi hati kita,
menghancurkan hati kita, dan
menyembuhkan hati kita yang terluka.

wanita cantik adalah wanita yang tetap tertawa walaupun sebenarnya ia ingin menangis, tetap tersenyum walaupun ia kecewa, tetap semangat walupun ia sebenarnya sudah tak sanggup lagi, dan tetap menganggp semuanya baik-baik saja walaupun keadaan sebenarnya sudah tidak baik...

ga semua yang qt inginkan bisa qt dapatkan dengan mudah terkadang qt harus mengeluarkan air mata untuk bisa meraihnya

problematika pendidikan islam


BAB I
PENGERTIAN
A. PENGEMBANGAN DIRI
Jika menelaah literatur tentang teori-teori pendidikan, khususnya psikologi pendidikan, istilah pengembangan diri disini tampaknya dapat disepadankan dengan istilah pengembangan kepribadian, yang sudah lazim digunakan dan banyak dikenal. Meski sebetulnya istilah diri (self) tidak sepenuhnya identik dengan kepribadian (personality). Istilah diri dalam bahasa psikologi disebut pula sebagai aku, ego atau self yang merupakan salah satu aspek sekaligus inti dari kepribadian, yang di dalamnya meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita-cita, baik yang disadari atau pun yang tidak disadari. Aku yang disadari oleh individu biasa disebut self picture (gambaran diri), sedangkan aku yang tidak disadari disebut unconscious aspect of the self (aku tak sadar).1) Menurut Freud (Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, 1993) ego atau diri merupakan eksekutif kepribadian untuk mengontrol tindakan (perilaku) dengan mengikuti prinsip kenyataan atau rasional, untuk membedakan antara hal-hal terdapat dalam batin seseorang dengan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar.
Setiap orang memiliki kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita akan dirinya, ada yang realistis atau justru tidak realistis. Sejauh mana individu dapat memiliki kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-citanya akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya, terutama kesehatan mentalnya. Kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita akan seseorang akan dirinya secara tepat dan realistis memungkinkan untuk memiliki kepribadian yang sehat. Namun, sebaliknya jika tidak tepat dan tidak realistis boleh jadi akan menimbulkan pribadi yang bermasalah.
Kepercayaan akan dirinya yang berlebihan (over confidence) menyebabkan seseorang dapat bertindak kurang memperhatikan lingkungannya dan cenderung melabrak norma dan etika standar yang berlaku, serta memandang sepele orang lain. Selain itu, orang yang memiliki over confidence sering memiliki sikap dan pemikiran yang over estimate terhadap sesuatu. Sebaliknya kepercayaan diri yang kurang, dapat menyebabkan seseorang cenderung bertindak ragu-ragu, rasa rendah diri dan tidak memiliki keberanian. Kepercayaan diri yang berlebihan maupun kurang dapat menimbulkan kerugian tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi lingkungan sosialnya.
B. MUATAN LOKAL        
            Muatan Lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi mata pelajaran muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran Muatan Lokal bukanlah pekerjaan yang mudah, karena harus dipersiapkan berbagai hal untuk dapat mengembangkan Mata Pelajaran Muatan Lokal.
            Muatan lokal dimaksudkan untuk mengembangkan potensi daerah sebagai bagian upaya peningkatan mutu kualitas pendidikan di sekolah. Muatan lokal bisa berbentuk bahasa, baik bahasa daerah maupun bahasa asing, keterampilan dalam bidang teknologi informasi, atau keterampilan dalam bentuk tepat guna yang lain. Muatan lokal disajikan dalam bentuk mata pelajaran yang harus dipelajari oleh setiap peserta didik, sehingga harus memiliki kompetensi mata pelajaran, standar kompetensi dan kompetensi dasar.2)

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGEMBANGAN DIRI DALAM KTSP
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, pemerintah terus berupaya melakukan berbagai reformasi dalam bidang pendidikan, diantaranya adalah dengan diluncurkannya Peraturan Mendiknas No. 22 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Mendiknas No. 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Untuk mengatur pelaksanaan peraturan tersebut pemerintah mengeluarkan pula Peraturan Mendiknas No 24 tahun 2006.
Dari ketiga peraturan tersebut memuat beberapa hal penting diantaranya bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang kemudian dipopulerkan dengan istilah KTSP. Di dalam KTSP, struktur kurikulum yang dikembangkan mencakup tiga komponen yaitu: (1) Mata Pelajaran; (2) Muatan Lokal dan (3) Pengembangan Diri.
Komponen Pengembangan Diri merupakan komponen yang relatif baru dan berlaku untuk dikembangkan pada semua jenjang pendidikan. Sebagai sesuatu yang dianggap baru, kehadirannya menarik untuk didiskusikan dan diperdebatkan, Sejumlah pertanyaan banyak diajukan diantaranya saja : Apa hakekat Pengembangan Diri itu ? dan Bagaimana pula pelaksanaan kegiatan Pengembangan Diri di sekolah ?
Melalui tulisan ini akan dipaparkan secara teoritik tentang hakekat pengembangan diri dan beberapa alternatif pemikiran tentang pelaksanaan kegiatan pengembangan diri di sekolah, untuk dijadikan sebagai salah satu bahan rujukan dalam kegiatan Pengembangan Diri di sekolah-sekolah, sehingga kegiatan Pengembangan Diri di sekolah lebih dapat dipertanggungjawabkan.
1.      Hakekat Pengembangan Diri
Penggunaan istilah Pengembangan Diri dalam kebijakan kurikulum memang relatif baru. Kehadirannya menarik untuk didiskusikan baik secara konseptual maupun dalam prakteknya.
Setiap orang memiliki sikap dan perasaan tertentu terhadap dirinya. Sikap akan diwujudkan dalam bentuk penerimaan atau penolakan akan dirinya, sedangkan perasaan dinyatakan dalam bentuk rasa senang atau tidak senang akan keadaan dirinya. Sikap terhadap dirinya berkaitan erat dengan pembentukan harga diri (penilaian diri), yang menurut Maslow merupakan salah satu jenis kebutuhan manusia yang amat penting. Sikap dan mencintai diri yang berlebihan merupakan gejala ketidaksehatan mental, biasa disebut narcisisme. Sebaliknya, orang yang membenci dirinya secara berlebihan dapat menimbulkan masochisme.3)
Disamping itu, setiap orang pun memiliki cita-cita akan dirinya. Cita-cita yang tidak realistis dan berlebihan, serta sangat sulit untuk dicapai mungkin hanya akan berakhir dengan kegagalan yang pada akhirnya dapat menimbulkan frustrasi, yang diwujudkan dalam bentuk perilaku salah-suai (maladjusted). Sebaliknya, orang yang kurang memiliki cita-cita tidak akan mendorong ke arah kemajuan.
Berkenaan dengan diri atau ego ini, John F. Pietrofesa (1971) mengemukakan tiga komponen tentang diri, yaitu : (1) aku ideal (ego ideal); (2) aku yang dilihat dirinya (self as seen by self); dan (3) aku yang dilihat orang lain (self as seen by others). Dalam keadaan ideal ketiga aku ini persis sama dan menunjukkan kepribadian yang sehat, sementara jika terjadi perbedaan-perbedaan yang signifikan diantara ketiga aku tersebut merupakan gambaran dari ketidakutuhan dan ketidaksehatan kepribadian.
Dengan memperhatikan dasar teoritik tersebut di atas, kita bisa melihat arah dan hasil yang diharapkan dari kegiatan Pengembangan Diri di sekolah yaitu terbentuknya keyakinan, sikap, perasaan dan cita-cita para peserta didik yang realistis, sehingga peserta didik dapat memiliki kepribadian yang sehat dan utuh.
2.   Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Diri
            Secara konseptual, dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 kita mendapati rumusan tentang pengembangan diri, sebagai berikut :
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
Berdasarkan rumusan di atas dapat diketahui bahwa Pengembangan Diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Dengan sendirinya, pelaksanaan kegiatan pengembangan diri jelas berbeda dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran. Seperti pada umumnya, kegiatan belajar mengajar untuk setiap mata pelajaran dilaksanakan dengan lebih mengutamakan pada kegiatan tatap muka di kelas, sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan berdasarkan kurikulum (pembelajaran reguler), di bawah tanggung jawab guru yang berkelayakan dan memiliki kompetensi di bidangnya. Walaupun untuk hal ini dimungkinkan dan bahkan sangat disarankan untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran di luar kelas guna memperdalam materi dan kompetensi yang sedang dikaji dari setiap mata pelajaran.
Sedangkan kegiatan pengembangan diri seyogyanya lebih banyak dilakukan di luar jam reguler (jam efektif), melalui berbagai jenis kegiatan pengembangan diri. Salah satunya dapat disalurkan melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang disediakan sekolah, di bawah bimbingan pembina ekstra kurikuler terkait, baik pembina dari unsur sekolah maupun luar sekolah. Namun perlu diingat bahwa kegiatan ekstra kurikuler yang lazim diselenggarakan di sekolah, seperti: pramuka, olah raga, kesenian, PMR, kerohanian atau jenis-jenis ekstra kurikuler lainnya yang sudah terorganisir dan melembaga bukanlah satu-satunya kegiatan untuk pengembangan diri.4)
Di bawah bimbingan guru maupun orang lain yang memiliki kompetensi di bidangnya, kegiatan pengembangan diri dapat pula dilakukan melalui kegiatan-kegiatan di luar jam efektif yang bersifat temporer, seperti mengadakan diskusi kelompok, permainan kelompok, bimbingan kelompok, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat kelompok. Selain dilakukan melalui kegiatan yang bersifat kelompok, kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan pula melalui kegiatan mandiri, misalnya seorang siswa diberi tugas untuk mengkaji buku, mengunjungi nara sumber atau mengunjungi suatu tempat tertentu untuk kepentingan pembelajaran dan pengembangan diri siswa itu sendiri.
Selain kegiatan di luar kelas, dalam hal-hal tertentu kegiatan pengembangan diri bisa saja dilakukan secara klasikal dalam jam efektif, namun seyogyanya hal ini tidak dijadikan andalan, karena bagaimana pun dalam pendekatan klasikal kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minatnya relatif terbatasi. Hal ini tentu saja akan menjadi kurang relevan dengan tujuan dari pengembangan diri itu sendiri sebagaimana tersurat dalam rumusan tentang pengembangan diri di atas.
Dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terjadi pengurangan jumlah jam efektif setiap minggunya, namun dengan adanya pengembangan diri maka sebetulnya aktivitas pembelajaran diri siswa tidaklah berkurang, siswa justru akan lebih disibukkan lagi dengan berbagai kegiatan pengembangan diri yang memang lebih bersifat ekspresif, tanpa “terkerangkeng” di dalam ruangan kelas.
Kegiatan pengembangan diri harus memperhatikan prinsip keragaman individu. Secara psikologis, setiap siswa memiliki kebutuhan, bakat dan minat serta karakateristik lainnya yang beragam. Oleh karena itu, bentuk kegiatan pengembangan diri pun seyogyanya dapat menyediakan beragam pilihan.
Hal yang fundamental dalam dalam kegiatan Pengembangan Diri bahwa pelaksanaan pengembangan diri harus terlebih dahulu diawali dengan upaya untuk mengidentifikasi kebutuhan, bakat dan minat, yang dapat dilakukan melalui teknik tes (tes kecerdasan, tes bakat, tes minat dan sebagainya) maupun non tes (skala sikap, inventori, observasi, studi dokumenter, wawancara dan sebagainya).
Dalam hal ini, peranan bimbingan dan konseling menjadi amat penting, melalui kegiatan aplikasi instrumentasi data dan himpunan data, bimbingan dan konseling seyogyanya dapat menyediakan data yang memadai tentang kebutuhan, bakat, minat serta karakteristik peserta didik lainnya. Data tersebut menjadi bahan dasar untuk penyelenggaraan Pengembangan Diri di sekolah, baik melalui kegiatan yang bersifat temporer, kegiatan ekstra kurikuler, maupun melalui layanan bimbingan dan konseling itu sendiri.
Namun harus diperhatikan pula bahwa kegiatan Pengembangan Diri tidak identik dengan Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan Konseling tetap harus ditempatkan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan di sekolah dengan keunikan karakteristik pelayanannya.
Terkait dengan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah kemungkinan besar akan menggunakan konsep baru menggantikan Pola 17 yang selama ini diterapkan. Ke depannya kemungkinan akan digunakan konsep baru yang lebih dikenal sebutan imbingan dan Konseling Komprehensif dan Pengembangan (Developmental and Comprehensive Guidance and Counseling), dimana layanan Bimbingan dan Konseling lebih bersifat menyeluruh (guidance for all) dan tidak lagi terfokus pada pendekatan klinis (clinical atau therapeutical approach) akan tetapi lebih mengutamakan pendekatan pengembangan (developmental approach). Dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2005) mengemukakan perbedaan dari kedua pendekatan tersebut adalah


Pendekatan Pengembangan :
Bersifat pedagogis
1             Melihat potensi klien (siswa)
2             Berorientasi pengembangan potensi positif klien (siswa)
3             Menggembirakan klien (siswa)
4             Dialog konselor menyentuh klien (siswa), klien (siswa) terbuka
5             Bersifat humanistik- religius
6             Klien (siswa) sebagai subyek memegang peranan, memutuskan tentang dirinya
7             Konselor hanya membantu dan memberi alternatif-alternatif
Pendekatan Klinis (Model Lama):
      Bersifat klinis
1             Melihat kelemahan klien
2             Berorientasi pemecahan masalah klien (siswa)
3             Konselor serius
4             Klien (siswa) sering tertutup
5             Dialog menekan perasaan klien
6             Klien sebagai obyek
*       Dengan demikian, layanan Bimbingan dan Konseling yang memiliki fungsi pengembangan, seperti layanan Pembelajaran, Penempatan dan Bimbingan Kelompok kiranya perlu lebih dikedepankan dan ditingkatkan lagi dari segi frekuensi maupun intensitas pelayanannya.
            Dari uraian di atas, tampak bahwa kegiatan pengembangan diri akan mencakup banyak kegiatan sekaligus juga banyak melibatkan orang, oleh karena itu diperlukan pengelolaan dan pengorganisasian tersendiri. Namun secara prinsip, bahwa pengelolaan dan pengorganisasian pengembangan diri betul-betul diarahkan untuk melayani seluruh siswa agar dapat mengembangkan dirinya secara optimal, sesuai bakat, minat, dan kebutuhannya masing-masing dan pengembangan diri menjadi wilayah garapan bersama antara komponen pembelajaran dan komponen Bimbingan dan Konseling di sekolah dengan keunikan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

B. Muatan Lokal Dalam KTSP
            Kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa struktur  kurikulum  pada setiap satuan pendidikan memuat tiga komponen, yaitu: mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri.  dan Peraturan Mendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta Peraturan Mendiknas No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen No. 22 dan 23, mulai tahun pelajaran 2006/2007 sekolah diwajibkan menyusun kurikulumnya sendiri berupa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) paling lambat  tahun ajaran 2009/2010,. Bahkan tahun pelajran 2007/2008 ini hampir semua sekolah berusaha menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada Standar Isi yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), sekolah dapat mengadopsi atau mengadaptasi model KTSP yang disusun oleh BSNP. Namun sejauh ini guru dan sekolah sebagai pelaksana masih meraba-raba penerjemahan kurikulum tersebut. Mereka juga khawatir kekurangan buku pegangan sebagai bahan ajar.
            Pemberlakuan KTSP membawa implikasi bagi sekolah dalam melaksanakan KBM sejumlah mata pelajaran, dimana hampir semua mata pelajaran sudah memiliki Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk masing-masing pelajaran. Sedangkan untuk Mata Pelajaran Muatan Lokal yang merupakan kegiatan kurikuler yang harus diajarkan di kelas tidak mempunyai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya. Hal ini membuat kendala bagi sekolah untuk menerapkan Mata Pelajaran Muatan Lokal.
            Mata pelajaran muatan lokal bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan perilaku kepada peserta didik agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai/aturan yang berlaku di daerahnya dan mendukung kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan nasional. Lebih jelas lagi agar siswa dapat:
1.            Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya,
2.            Memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya,
3.            Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
            Mata Pelajaran Muatan lokal pengembangannya sepenuhnya ditangani oleh sekolah dan komite sekolah yang membutuhkan penanganan secara profesional dalam merencanakan, mengelola, dan melaksanakannya. Dengan demikian di samping mendukung pembangunan daerah dan pembangunan nasional, perencanaan, pengelolaan, maupun pelaksanaan muatan lokal memperhatikan keseimbangan dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Penanganan secara profesional muatan lokal merupakan tanggung jawab pemangku kepentingan (stakeholders) yaitu sekolah dan komite sekolah.   Untuk mengetahui muatan lokal yang ada pada suatu daerah dapat dilakukan dengan mendata dan menelaah berbagai keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan.          Data tersebut dapat diperoleh dari berbagai pihak yang terkait di daerah yang bersangkutan seperti Pemda/Bappeda, Instansi vertikal terkait, Perguruan Tinggi, dan dunia usaha/industri.
            Muatan Lokal dapat ditinjau dari potensi daerah yang bersangkutan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya, dan kekayaan alam. Sekolah yang akan menerapkan muatan lokal dapat berkoordinasi dengan instansi terkait yang ada dipemerintah daerah. Muatan lokal yang dapat dikembangkan disesuaikan dengan situasi dan kondisi disekitar sekolah, koordinasi dengan instansi terkait inilah yang dijadikan acuan untuk mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).Bila Mata Pelajaran Muatan Lokal yang ada tidak layak lagi untuk diterapkan, maka sekolah bisa menggunakan Mata Pelajaran  Muatan Lokal yang ditawarkan oleh Dinas atau mengembangkan muatan lokal sekolah yang ada disekitarnya.

BAB III
KONTRIBUSINYA UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI

A     Kontribusi Pengembangan Diri

            Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pengembangan diri sangat berperan dalam proses perkembangan pendidikan kita, diantaranya:
  1. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran, mengandung arti bahwa bentuk, rancangan, dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai
    sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi.
    Namun, manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat
    tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakatdan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi.
  2. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat
    yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya.
    Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata
    tugas konselor, dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan
    konseling.
  3. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau
    pengganti pelayanan bimbingan dan konseling, melainkan di dalamnya
    mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar, responsif, perencanaan
    individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor.
    B. Kontribusi Muatan Lokal
Kontribusi muatan lokal bagi pencapaian kompetensi:
1    Peserta didik akan lebih mengenal dan menjadi lebih akrab dengan      lingkungan alam, sosial, dan budayanya.
2    Peserta didik memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya.
3    Peserta didik memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional. Lokal

BAB IV
PENUTUP

            Pengembangan Diri di sekolah merupakan salah satu komponen penting dari struktur Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diarahkan guna terbentuknya keyakinan, sikap, perasaan dan cita-cita para peserta didik yang realistis, sehingga pada gilirannya dapat mengantarkan peserta didik untuk memiliki kepribadian yang sehat dan utuh. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan secara klasikal pada jam efektif, namun seyogyanya lebih banyak dilakukan di luar jam jam efektif, baik melalui kegiatan yang dilembagakan maupun secara temporer, bersifat individual maupun kelompok. Pengembangan diri harus memperhatikan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik dan bimbingan dan konseling di sekolah memiliki peranan penting untuk mengidentifikasi kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik melalui kegiatan aplikasi instrumentasi dan himpunan data, untuk ditindaklanjuti dalam berbagai kegiatan pengembangan diri. Kegiatan pengembangan diri akan melibatkan banyak kegiatan sekaligus juga banyak melibatkan orang, oleh karena itu diperlukan pengelolaan dan pengorganisasian disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi nyata di sekolah.



DAFTAR PUSTAKA

1             Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
2             Prof. Dr.H. Muhaimin. Dkk.2008, Pengembangan Model KTSP, jakarta : PTRaja Grafindo Persada.
3             Internet



1) Nana Syaodih Sukmadinata,Landasan Psikologi proses pendidikan. PPT Remaja, Bandung,2005.
2) Prof. Dr. H. Muhaimin MA. Dkk.Pengembangan Model KTSP Pada Sekolah dan Madrasah.PT. Raja gravindo Persada, Jakarta.2008. hlm. 94.
3) internet.
4) Internet.

Ledakan yang Mengalir Sunyi

Ada gemuruh yang tak sempat menjadi guntur, Ada bara yang dipaksa padam sebelum melantur. Bukan karena lara hati ini luruh berserakan, Ta...