Sisa Kehangatan di Bulan Desember
Desember 2019 seharusnya menjadi bulan perayaan. Empat tahun
pernikahan kami terasa seperti musim semi yang abadi. Tidak ada pertengkaran
hebat, hanya tawa kecil tentang siapa yang lupa mematikan lampu atau rebutan
menyuapi Arka, putra kecil kami yang baru menginjak usia dua tahun.
"Mas nanti pulang bawakan martabak manis ya?"
ucapku pagi itu sambil membenahi kerah kemejanya. Ia tersenyum, mengecup
keningku lama, lalu menggendong Arka tinggi-tinggi hingga bocah itu tertawa
geli. Itu adalah pagi yang biasa, pagi yang harmonis, pagi yang tidak
memberikan tanda-tanda bahwa dunia akan runtuh dalam hitungan jam.
Sore harinya, ia pulang dengan wajah pucat. Badannya
menggigil hebat. "Hanya kecapekan, Sayang," bisiknya mencoba
menenangkan saat aku menempelkan termometer di dahinya. Namun, suhu tubuhnya
tidak mau berkompromi.
Malam itu, rumah sakit menjadi persinggahan kami. Diagnosis
dokter terdengar kabur di telingaku karena aku terlalu sibuk memegangi
tangannya yang dingin. Hari pertama, ia masih sempat mengelus rambutku dan
membisikkan janji untuk segera sembuh demi Arka dan kami ingin berwista Bersama
.
Di hari kedua, suasana ruang perawatan mendadak tegang.
Dokter memanggilku ke lorong dengan wajah yang sangat berat.
"Ibu, segera minta keluarga menjemput putra Ibu. Bawa
dia ke sini sekarang juga untuk bertemu ayahnya selagi masih ada waktu,"
ucap dokter dengan nada rendah yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
Aku gemetar, mencoba mencari pegangan pada dinding rumah
sakit yang dingin. Dokter memegang bahuku, mencoba menyalurkan kekuatan yang
sebenarnya sudah runtuh. "Ibu harus sabar dan bersiap dengan segala
kemungkinan. Kondisi suami Ibu sangat kritis. Di otaknya sudah terlalu banyak
gumpalan darah yang pecah. Dan kondisi jantung sudah tidak berfungsi. Saat ini,
peluang hidupnya hanya tinggal 50%." Aku hanya menunggu angka di monitor
dengan tatapan kosong sampai angka berubah 0 dikuti garis lurus Panjang dan bunyi
bip panjang tanpa henti
Duniaku runtuh seketika. Angka itu bukan sekadar statistik,
melainkan vonis yang mencekik napas.
Tak lama, Arka tiba. Bocah dua tahun itu masuk ke kamar ICU
dengan wajah polos, tidak mengerti mengapa ayahnya terbaring diam dikelilingi
kabel-kabel rumit. Aku menuntun tangan kecilnya untuk menyentuh tangan ayahnya
yang mulai dingin. Itu adalah pertemuan terakhir yang singkat, namun terekam
abadi dalam ingatan.
Hanya butuh 48 jam bagi takdir untuk mengubah
statusku dari seorang istri yang bahagia menjadi seorang janda dengan balita di
pelukan. Saat dokter akhirnya menarik kain putih itu menutup wajahnya, duniaku
benar-benar berhenti berputar. Desember yang biasanya dingin karena hujan,
mendadak membeku karena kehilangan yang teramat dalam.
Tujuh tahun telah berlalu sejak kepergiannya yang mendadak
itu. Kini, tahun 2026, Arka sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang gagah. Ia
memiliki sorot mata yang sama persis dengan ayahnya teduh dan penuh kasih.
Setiap kali aku menatap Arka, aku melihat suamiku yang terus
"hidup". Rumah kami memang tak lagi memiliki suara tawanya, tapi
kehangatan yang ia bangun selama empat tahun pernikahan itu menjadi fondasi
bagiku untuk tetap berdiri tegak. Aku belajar bahwa mencintai tidak harus
selalu memiliki raganya.
Seringkali, di malam-malam sepi, aku masih duduk di sudut
sofa tempat kami biasa berdiskusi tentang masa depan. Aku teringat betapa
singkatnya waktu yang kami miliki, namun betapa dalamnya bekas yang ia
tinggalkan.
Kehilangan ini tidak lagi terasa seperti luka yang menganga, melainkan sebuah ruang sunyi yang aku isi dengan syukur. Aku bersyukur pernah dicintai olehnya, meski hanya sebentar. Dan di atas sajadah, aku selalu menemukan cara untuk pulang menemuinya. Karena sejauh apa pun ia pergi, rinduku akan selalu sampai lewat baris-baris Al-Fatihah.
~Hanya memastikan bahwa raga sudah memeluk takdir~

Komentar
Posting Komentar