Hening yang Mengetahui

Ruang ini memang sepi,

tak ada lagi riuh rendah suara yang beradu,

atau detak tunggu di ujung pesan yang membisu.

Hanya ada aku, dan udara yang bergerak ragu.

Dulu, jemariku adalah buruh yang paling sibuk, 

menyusun kata menjadi paragraf-paragraf panjang,

membangun jembatan penjelasan yang tak kunjung seberang,

hanya agar kau tahu cara menjaga hati yang sedang bertandang.

Aku lelah menjadi kamus bagi seseorang yang enggan membaca,

menjadi petunjuk jalan bagi ia yang tak ingin melangkah.

Maka biarlah kini sunyi ini menjadi rumah,

tempat segala lelahku akhirnya tumpah.

Sepi ini, setidaknya jujur.

Aku tak perlu lagi mendiktekan cara menghargai,

tak perlu lagi mengeja bagaimana aku ingin dicintai.

Sebab kini, di tangan sendiri,

aku sudah cukup mengerti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI AQIDAH AKHLAK KELAS 1 DINIYYAH

homonim, homofon, homograf, polisemi, peyorasi, ameliorasi, sinestesia

sistem pendidikan dimesir