Di Balik Centang Abu yang Membatu


Di layar kecil ini, harapku mulai mengerut,

Menatap baris pesan yang seolah tersangkut.

Rangkaian kata "Mohon izin, Ibu..."

Hanya membentur dinding bisu yang kian sesak.

Aku adalah nakhoda di kapal yang nyaris karam,

Membawa tumpukan kertas, mencari dermaga di tengah malam.

Namun mercusuar itu padam, tak memberi tanda,

Hanya menyisakan tanya

apakah aku masih ada dalam agenda?

Hari berganti menjadi deretan angka yang mati,

Satu hari, tiga hari, hingga seminggu menanti.

Mungkin jemari beliau sedang menenun ribuan takdir,

Atau barangkali, namaku hanyalah debu yang tersingkir.

Semangatku yang dulu menyala bak api unggun,

Kini perlahan menjadi abu dalam ruang tunggu yang beralun.

Bukan malas yang ingin kupeluk erat,

Hanya saja, arahku hilang ditelan sunyi yang teramat berat.

Wahai Sang Pemilik Tinta yang Berwibawa,

Di balik kesibukanmu yang menjulang setinggi menara,

Ada sebuah mimpi yang sedang sekarat menanti sebaris aksara.

Ketukanku di pintu layarmu mungkin tak terdengar,

Namun bagiku, satu balasanmu adalah nyawa yang berpijar.

 

Indramayu,

Bayang Yang Tak Terduga

Awalnya aku begitu percaya, bahwa hatiku cukup luas untuk menerima seluruh musim yang pernah kau lewati. Kukira masa lalu hanyalah daun ya...