Sujud di Ambang Ketentuan


 Di hadapan waktu yang terus melaju, 

Aku berdiri dengan tangan yang terbuka. 

Seluruh yang hilang telah aku ikhlaskan, 

Menjadi debu yang terbawa angin tenang, 

Tak lagi kucari jejaknya di tanah yang gersang.

Seluruh yang rusak telah aku relakan, 

Puing-puingnya tak lagi kususun paksa. 

Biar ia menjadi bagian dari cerita lama, 

Tentang bagaimana hancur mengajariku makna, 

Bahwa tak semua yang retak harus kembali sama.

Segala yang membebani telah aku lepaskan, 

Rantai-rantai sesak yang dulu melilit pundak. 

Kini napasku seringan kapas di udara, 

Sebab beban bukan lagi kawan perjalanan, 

Melainkan pelajaran yang tuntas kutunaikan.

Dan segala hal yang ingin pergi, 

Tak pernah lagi aku tahan dengan jemari. 

Sebab aku tahu, pintu yang tertutup di sini, 

Adalah awal dari langkah yang lebih berarti.

Lalu, takdir mana yang harus aku perdebatkan? 

Jika setiap napas dan degup adalah pinjaman. 

Sebab di ujung segala tanya dan pencarian, 

Aku sadar, segala ketentuan hanyalah milik Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ledakan yang Mengalir Sunyi

Ada gemuruh yang tak sempat menjadi guntur, Ada bara yang dipaksa padam sebelum melantur. Bukan karena lara hati ini luruh berserakan, Ta...