Bayang Yang Tak Terduga


Awalnya aku begitu percaya,
bahwa hatiku cukup luas
untuk menerima seluruh musim yang pernah kau lewati.

Kukira masa lalu hanyalah daun yang telah gugur,
tak lagi memiliki alasan untuk kembali
mengusik teduhnya hari ini.

Namun waktu mengajarkanku sesuatu yang tak pernah kuduga.
Sesekali, ada bayang yang melintas
di antara terang yang sedang kita nyalakan.
Bukan untuk menetap,
bukan pula untuk mengubah arah langkahmu,
hanya jejak lama yang kadang menemukan jalan
untuk kembali mengetuk sunyi.

Aku tahu,
kau telah menutup halaman itu dengan tenang.
Tak ada lagi cerita yang ingin kau lanjutkan,
tak ada hangat yang hendak kau pelihara.
Hanya beberapa urusan yang belum sepenuhnya selesai,
seperti benang lama yang masih harus dirapikan
sebelum benar-benar disimpan.

Lalu mengapa hati ini kadang menjadi begitu kecil?
Mengapa ada ruang dalam dadaku
yang tiba-tiba kehilangan teduhnya,
hanya karena melihat bayang yang bukan milikku
pernah menjadi bagian dari perjalananmu?

Maafkan aku
jika sesekali resah datang tanpa diundang.
Bukan karena aku meragukan langkahmu,
bukan pula karena aku ingin menghapus
jejak yang pernah ada sebelumku.

Mungkin karena aku mencintaimu
lebih dalam dari yang mampu kujelaskan,
hingga sesuatu yang telah lama berlalu
pun masih mampu membuat hati ini
belajar tentang cemburu,
tentang takut kehilangan,
dan tentang bagaimana mencintai
tanpa harus memiliki seluruh masa lalumu.

Sebab akhirnya aku mengerti 
aku tak perlu memadamkan bayang yang pernah ada,
cukup percaya bahwa cahaya yang kau pilih
adalah tempat kita berjalan bersama.

Cahaya di Ujung Menit

 

Dulu, dunia sempat kehilangan warnanya,
saat langkahmu terhenti, meninggalkan duka yang sunyi.
Tahun-tahun berlalu dalam senyap yang panjang,
namun amanahmu tetap kugenggam,
menjadi kompas dalam setiap doa dan langkah perjuangan.

Aku belajar berdiri di atas puing-puing kerinduan,
menjaga apa yang pernah kita cita-citakan.
Hingga pada waktu yang tak pernah kuduga,
Tuhan mengirimkan sepasang tangan yang sudi menopang,
menjadi penawar bagi sunyi yang lama bersarang.

Kini, aku bersyukur pada takdir yang Maha Baik.
Kutemukan kembali tempat untuk bersandar,
seorang teman dalam melanjutkan kisah,
tanpa sedikit pun menghapus jejak kebaikanmu,
tanpa harus melupakan hangat yang pernah kau tinggalkan.

Doaku untukmu di sana tetap mengalun dalam diam,
hangat, sebagaimana rindu yang tak pernah benar-benar padam.
Sementara aku melanjutkan hidup,
menjaga amanah, merawat cinta yang baru,
dan menerima dengan lapang
bahwa bahagia tak selalu berarti melupakan
kadang, ia adalah cara Tuhan mengajarkan kita
untuk tetap mencintai masa lalu,
dan belajar bersyukur atas hari ini.


Bayang Yang Tak Terduga

Awalnya aku begitu percaya, bahwa hatiku cukup luas untuk menerima seluruh musim yang pernah kau lewati. Kukira masa lalu hanyalah daun ya...