Cahaya di Ujung Menit

 

Dulu, dunia sempat kehilangan warnanya,
saat langkahmu terhenti, meninggalkan duka yang sunyi.
Tahun-tahun berlalu dalam senyap yang panjang,
namun amanahmu tetap kugenggam,
menjadi kompas dalam setiap doa dan langkah perjuangan.

Aku belajar berdiri di atas puing-puing kerinduan,
menjaga apa yang pernah kita cita-citakan.
Hingga pada waktu yang tak pernah kuduga,
Tuhan mengirimkan sepasang tangan yang sudi menopang,
menjadi penawar bagi sunyi yang lama bersarang.

Kini, aku bersyukur pada takdir yang Maha Baik.
Kutemukan kembali tempat untuk bersandar,
seorang teman dalam melanjutkan kisah,
tanpa sedikit pun menghapus jejak kebaikanmu,
tanpa harus melupakan hangat yang pernah kau tinggalkan.

Doaku untukmu di sana tetap mengalun dalam diam,
hangat, sebagaimana rindu yang tak pernah benar-benar padam.
Sementara aku melanjutkan hidup,
menjaga amanah, merawat cinta yang baru,
dan menerima dengan lapang
bahwa bahagia tak selalu berarti melupakan
kadang, ia adalah cara Tuhan mengajarkan kita
untuk tetap mencintai masa lalu,
dan belajar bersyukur atas hari ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bayang Yang Tak Terduga

Awalnya aku begitu percaya, bahwa hatiku cukup luas untuk menerima seluruh musim yang pernah kau lewati. Kukira masa lalu hanyalah daun ya...