Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Rinduku Hanya Sebatas Al-Fatihah

  Di kursi kayu tempatmu biasa bersandar, Kini hanya ada sepi yang menetap sabar. Aku masih sering menoleh ke arah pintu, Berharap langkah kakimu pulang menemui rinduku. Dulu, duniamu dan duniaku adalah satu, Berbagi tawa dan peluh di setiap waktu. Kini, jarak kita sejauh langit dan bumi, Meninggalkan jejak kenangan yang takkan mati. Aku belajar mengikhlaskan tanpa melupakan, Meski sesak seringkali datang tak tertahankan. Tak ada lagi suara yang bisa kudengar nyata, Hanya bayangmu yang masih menetap di pelupuk mata. Kini cara mencintaimu telah berubah rupa, Tak lagi lewat sentuhan atau tutur sapa. Setiap kali rasa rindu datang menyesakkan dada, Akupun bersimpuh, melangitkan doa-doa mulia. Sebab aku tahu, hanya ini jalan yang tersisa, Menemuimu di dalam sujud dan heningnya doa. Tenanglah di sana, wahai belahan jiwa, Rinduku kini hanya sebatas Al-Fatihah.  

Sisa Kehangatan di Bulan Desember

Gambar
  Desember 2019 seharusnya menjadi bulan perayaan. Empat tahun pernikahan kami terasa seperti musim semi yang abadi. Tidak ada pertengkaran hebat, hanya tawa kecil tentang siapa yang lupa mematikan lampu atau rebutan menyuapi Arka, putra kecil kami yang baru menginjak usia dua tahun. "Mas nanti pulang bawakan martabak manis ya?" ucapku pagi itu sambil membenahi kerah kemejanya. Ia tersenyum, mengecup keningku lama, lalu menggendong Arka tinggi-tinggi hingga bocah itu tertawa geli. Itu adalah pagi yang biasa, pagi yang harmonis, pagi yang tidak memberikan tanda-tanda bahwa dunia akan runtuh dalam hitungan jam. Sore harinya, ia pulang dengan wajah pucat. Badannya menggigil hebat. "Hanya kecapekan, Sayang," bisiknya mencoba menenangkan saat aku menempelkan termometer di dahinya. Namun, suhu tubuhnya tidak mau berkompromi. Malam itu, rumah sakit menjadi persinggahan kami. Diagnosis dokter terdengar kabur di telingaku karena aku terlalu sibuk memegangi tangannya ya...