masa pembaharuan pendidikan islam
MASA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
Makalah
ini dibuat guna memenuhi tugas
Mata
kuliah: Sejarah Pendidikan Islam
Dosen
Pengampu: Dr. H. Hamruni

Disusun oleh:
Nuraeni (08470071)
NPK; 05
Taufiq Nur Rohman (08470123)
NPK; 10
Manhiatun Ni’mah (08470141)
NPK; 22
Siti Munirotul Ainia (08470153)
NPK; 28
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2010
PENDAHULUAN
Pendidikan Islam sesungguhnya
telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah Islam yang telah
dilakukan Nabi Muhammad saw. Berkaitan dengan itu pula pendidikan Islam
memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan
yang dilakukan secara terus menerus pasca generasi Nabi. Sesungguhnya adanya
upaya perubahan walaupun sedikit benar-benar telah nampak dan terjadi secara
alamiah (nature) dalam pendidikan Islam.
Kecanggihannya dalam memanfaatkan ilmu
pengetahuan telah membuktikan Barat telah beberapa kali memenangkan perang
melawan umat Islam. Bahkan beberapa wilayah Islam telah dikuasai Barat. Inilah
awal mula terjadinya kesadaran umat Islam akan ketertinggalannya.
Sehingga terpuruknya nilai-nilai
pendidikan Islam sesungguhnya lebih dilatarbelakangi oleh kondisi internal
Islam yang tidak lagi menganggap ilmu pengetahuan umum sebagai satu kesatuan
ilmu yang harus diperhatikan.
Dengan memperhatikan berbagai macam sebab
kelemahan dan kemunduran umat Islam maka terjadi beberapa pola pemikiran
pembaharuan pendidikan Islam.
PEMBAHASAN
1. Pengantar
Terpuruknya nilai-nilai pendidikan Islam sesungguhnya
lebih dilatarbelakangi oleh kondisi internal Islam yang tidak lagi menganggap
ilmu pengetahuan umum sebagai satu kesatuan ilmu yang harus diperhatikan.
Sehingga pada proses selanjutnya ilmu pengetahuan lebih banyak diadopsi bahkan
dimanfaatkan secara komprehensif oleh Barat yang pada waktu itu tidak pernah
mengenal ilmu pengetahuan.
Kecanggihannya dalam memanfaatkan ilmu
pengetahuan telah membuktikan Barat telah beberapa kali memenangkan perang
melawan umat Islam. Bahkan beberapa wilayah Islam telah dikuasai Barat.
Inilah awal mula terjadinya kesadaran umat
Islam akan ketertinggalannya yang begitu jauh. Introspeksi terus dilakukan oleh
beberapa pembaru Islam, untuk kemudian bisa dicarikan apa yang harus kita
perbuat dalam mengembalikan kejayaan Islam di masa lalu.
Secara garis besar, ada
beberapa faktor yang mendorong terjadinya proses pembaharuan pendidikan Islam,
yaitu:
Pertama, Faktor
kebutuhan pragmatis ummat Islam yang sangat memerlukan satu sistem pendidikan
Islam yang betul-betul bisa dijadikan rujukan dalam rangka mencetak
manusia-manusia muslim yang berkualitas, bertaqwa, dan beriman kepada Allah.
Kedua agama Islam sendiri melalui ayat suci al-Qur’an banyak menyuruh atau
menganjurkan ummat Islam untuk selalu, berfikir dan bermetaforma : membaca dan
menganalisisis sesuatu untuk kemudian bisa diterapkan atau bahkan bisa
menciptakan hal yang baru dari apa yang kita lihat.
Kedua, faktor di atas
sesungguhnya lebih merupakan faktor-faktor yang bisa dilihat secara internal.
Adanya kebutuhan ummat akan kemajuan dan perbaikan nasib dirinya bisa dikatakan
sebagai faktor penentu timbulnya proses pembaharuan pendidikan dalam Islam.
Disamping agama Islam sendiri melalui al-Qur’an sebagai sumber ajarannya banyak
menganjurkan kepada ummatnya untuk selalu berinovasi, melakukan pembaharuan di
segala bidang.
Ketiga, Adanya kontak Islam dengan Barat, juga merupakan faktor
terpenting yang bisa kita lihat. Adanya kontak ini paling tidak telah menggugah
dan membawa perubahan paradigmatik ummat Islam untuk belajar secara terus
menerus kepada Barat, sehingga ketertinggalan-ketertinggalan yang selama ini
dirasakan akan bisa terminimalisir.
Terjadinya kontak hubungan
antara Islam dengan Barat merupakan faktor eksternal pembaharuan pendidikan
Islam karena ummat Islam dapat melihat kemajuan Barat pada peralatan militer,
ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendudukan atas Mesir oleh Napoleon Bonaparte
pada tahun 1798 merupakan tonggak sejarah bagi ummat Islam untuk mendapatkan
kembali kesadaran akan kelemahan dan kemunduran mereka khususnya dalam bidang
teknologi. Ekspedisi Napoleon di Mesir bukan hanya menunjukan sepasukan tentara
yang kuat dengan peralatan militernya, bahkan juga membawa sepasukan ilmuan
dengan seperangkat peralatan ilmiah dua set peralatan.
Kondisi inilah yang
melatarbelakangi kepada para tokoh pembaharuan Islam akan kemunduran dan
keterbelakangan yang selama ini dirasakan.Oleh karenanya, adanya kontak Islam
dengan Barat pada abad 20, setidaknya telah memunculkan dua respon ummat Islam.
Pertama, rasa simpatik ummat Islam akan kemajuan yang dialami Barat, telah
berimplikasi pada lahirnya suatu gerakan yang mencoba melakukan pembaharuan
melalui pengadopsian ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai Barat ke
dalam dunia Islam dengan tujuan membangkitkan kembali Islam ke pentas dunia.
Kedua, rasa keprihatinan dari sebagian golongan ummat Islam akan
kemunduran-kemunduran yang dialami Islam. Kondisi demikian telah membawa pada
satu gerakan yang melihat bahwa kemunduran Islam disebabkan oleh ketidaksetiaan
ummat Islam sendiri terhadap ajaran-ajaran Islam yang sesungguhnya.
Oleh sebab itu untuk memajukan
Islam tidak ada jalan lain kecuali dengan kembali kepada ajaran Islam yang
murni berdasarkan ajaran al-Qur’an dan as-Sunah. Gerakan inilah yang kemudian
lebih dikenal sebagai kelompok tradisionalis, satu kelompok gerakan pembaharuan
dalam Islam yang lebih banyak melihat kejayaan masa lalu, sehingga dalam proses
pembaharuannya kelompok ini selalu menganjurkan untuk mengembalikan segala
persoalan kepada al-Qur’an dan al-Hadis.
Sebenarnya kesadaran akan
kelemahan dan ketertinggalan kaum muslimin dari bangsa-bangsa Eropa dalam
berbagai bidang kehidupan ini, telah timbul mulai abad ke 11 H/17 M dengan
kekalahan-kekalahan yang diderita oleh kerajaan Turki Usmani dalam peperangan
dengan negara-negara Eropa. Kekalahan-kekalahan tersebut mendorong raja-raja
dan pemuka-pemuka kerajaan untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahan mereka dan
rahasia keunggulan lawan. Mereka mulai memperhatikan kemajuan yang dicapai oleh
Eropa, terutama Perancis yang merupakan pusat kemajuan kebudayaan Eropa pada
masa itu. Kemudian dikirim duta-duta untuk mempelajari kemajuan Eropa, terutama di bidang militer
dan kemajuan ilmu pengetahuan. Didatangkan pelatih-pelatih militer dari Eropa
dan didirikan Sekolah Tehnik Militer pada tahun 1734 M untuk pertama kalinya.
2. Pola-Pola Pembaharuan Pendidikan Islam
Dengan memperhatikan berbagai macam sebab
kelemahan dan kemunduran umat Islam sebagaimana nampak pada masa sebelumnya,
dan dengan memperhatikan sebab-sebab kemajuan dan kekuatan yang dialami oleh
bangsa-bangsa Eropa, maka pada garis besarnya terjadi tiga pola pemikiran
pembaharuan pendidikan Islam. Ketiga pola tersebut adalah: (a) Pola
pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi kepada pola pendidikan modern di
Eropa. (b) Yang berorientasi dan bertujuan untuk pemurnian kembali ajaran
Islam. (c) Yang berorientasi pada kekayaan dan sumber budaya bangsa
masing-masing dan yang bersifat nasionalisme.
a) Golongan yang berorientasi pada pola
pendidikan modern di Barat, pada dasarnya mereka berpandangan bahwa sumber
kekuatan dan kesejahteraan hidup yang dialami oleh Barat adalah sebagai hasil
dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang mereka capai.
Mereka juga berpendapat bahwa apa yang dicapai oleh bangsa-bangsa Barat
sekarang, tidak lain adalah merupakan pengembangan dari ilmu pengetahuan dan
kebudayaan yang pernah berkembang di dunia Islam. Atas dasar demikian, maka
mengembalikan kekuatan dan kejayaan umat Islam, sumber kekuatan dan kesejahteraan
tersebut harus dikuasai kembali.
b) Gerakan pembaharuan pendidikan islam yang
berorientasi pada sumber Islam yang murni, pola ini berpandangan bahwa
sesungguhnya Islam sendiri merupakan sumber bagi kemajuan dan perkembangan
peradaban dan ilmu pengetahuan modern. Islam sendiri sudah penuh dengan
ajaran-ajaran dan pada hakikatnya mengandung potensi untuk membawa kemajuan dan
kesejahteraan serta kekuatan bagi umat manusia. Dalam hal ini Islam telah
membuktikannya, pada masa-masa kejayaannya.
c) Usaha pembaharuan pendidikan yang
berorientasi pada nasionalisme. Rasa nasionalisme timbul bersamaan dengan
berkembangnya pola kehidupan modern, dan mulai dari Barat. Bangsa-bangsa Barat
mengalami kemajuan rasa nasionalisme yang kemudian menimbulkan kekuatan-kekuatan
politik yang berdiri sendiri. Keadaan tersebut mendorong pada umumnya
bangsa-bangsa Timur dan bangsa terjajah lainnya untuk mengembangkan
nasionalisme masing-masing.
Umat islam mendapati kenyataan bahwa
mereka terdiri dari berbagai bangsa yang berbeda latar belakang dan sejarah
perkembangan kebudayaannya. Merekapun hidup bersama dengan orang-orang yang
beragama lain tapi sebangsa. Inilah yang juga mendorong perkembangannya rasa
nasionalisme di dunia islam.
Tokoh dan Sasaran Pembaharuan Pendidikan Islam
Pembaharuan pendidikan Islam yang pernah dilakukan pada tiga
wilayah kerajaan besar, yakni Kerajaan Usmani, Mesir dan India, yang sudah
sangat jelas dengan para tokoh pembaharuannya. Antara lain Sultan Ahmad III
(1703-1713 M) dan Mahmud II (1807-1839 M), dua tokoh pembaharu pendidikan Islam
dari kerajaan Turki Usmani. Muhammad Ali Pasya (1765-1849 M) dan Muhammad
Abduh, dua tokoh yang menjadi representasi pembaharuan di Mesir, serta Sayyid
Ahmad Khan, tokoh pembaharu yang menjadi simbol kemajuan ummat Islam di India.
1. Wilayah Turki
a) Sultan Ahmad III
Menurut Ahmad III bila ummat Islam ingin maju maka harus menghargai
dan mau menjalin kerja sama untuk mengejar ketinggalan Islam dengan Barat.
Langkah pertama yang dia ambil adalah dengan melakukan pengiriman duta-duta ke
Eropa untuk mengamati keunggulan Barat; selanjutnya menyampaikan hasil
penelitian tersebut kepada Sultan. Salah satu implikasi dari adanya penelitian
tersebut muncul ide dari Sultan untuk mendirikan Sekolah Teknik Militer yang
mengajarkan taktik, starategi, serta teknik militer.
Selain militer, Turki mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara
mendirikan percetakan di Istambul pada tahun 1727 M. Sebagai cara mempermudah
acces buku-buku pengetahuan, mencetak buku-buku tentang ilmu kedokteran, imu
kalam, ilmu pasti, astronomi, sejarah, kitab hadis, fiqh, dan tafsir. Selain
itu, pada tahun 1717 M beliau mendirikan lembaga terjemah yang bertugas
menerjemahkan buku-buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan ke dalam bahasa
Turki.
Dengan demikian upaya pembaharua pendidikan yang dilakukan Sultan
Ahmad III lebih pada upaya menciptakan satu lembaga pendidikan yang didalamnya
mengajarkan ilmu-ilmu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bangsa, dan
negara.
b) Sultan Mahmud II
Upaya pembaharuan yang
dilakukan Sultan Mahmud II merupakan upaya kelanjutan pembaharuan yang pernah dilakukan
Sultan Ahmad III. Pembaharuan dalam
bidang pendidikan yang coba dilakukannya adalah dengan mencoba memperbaiki
kondisi sistem pendidikan madrasah yang pada saat itu hanya mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan
agama dengan mencoba memasukkan ilmu
pengetahuan umum. Terobosan
lain yang coba dilakukan Sultan Mahmud II adalah dengan mencoba mendirikan
model-model sekolah Barat.
2. Wilayah Mesir
a) Muhammad Ali Pasya
Muhammad Ali Pasya
sangat menyadari pentingnya arti pendidikan dan ilmu pengetahuan bagi kemajuan
suatu bangsa. Untuk dalam pemerintahannya, ia mendirikan kementerian pendidikan dan lembaga-lembaga
pendidikan, membuka Sekolah Teknik (1836), Sekolah Kedokteran (1827), Sekolah
Apoteker (1829), Sekolah Pertambangan (1834), Sekolah Pertanian (1836), dan
Sekolah Penerjemahan (1836). Kebijakan dan gebrakan yang diambil Muhammad Ali Pasya lebih banyak mengadopsi
tata cara dan model yang dilakukan Barat.
b) Muhammad Abduh
Bagi Muhammad Abduh,
yang harus diperjuangkan dalam satu sistem pendidikan adalah pendidikan yang
fungsional, yang meliputi pendidikan universal bagi semua anak, laki-laki
maupun perempuan.
3. Wilayah India
Adapun yang menjadi tokoh
pembaharu di India adalah
Sayyid Akhmad Khan (1817-1898 M), Persoalan ummat Islam India,
adalah rendahnya mutu pendidikan. Menurutnya, mutu pendidikan ummat Islam harus
ditingkatkan dengan menerapkan sistem modern yang cukup.
PENUTUP
Simpulan
Adanya upaya pembaharuan pendidikan Islam tentu tidak bisa lepas
dari lemahnya kondisi pendidikan Islam saat itu, yang mengharuskan para
pembaharu Islam bisa menghadirkan satu paket pendidikan yang sesuai dengan
dengan tuntutan zaman,
Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya
proses pembaharuan pendidikan Islam, yaitu: faktor kebutuhan pragmatis ummat
Islam, faktor internal, adanya kontak Islam dengan Barat.
Dengan memperhatikan berbagai macam sebab
kelemahan dan kemunduran umat Islam maka terjadi tiga pola pemikiran
pembaharuan pendidikan Islam. Ketiga pola tersebut adalah: (a) Pola
pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi kepada pola pendidikan modern di
Eropa. (b) Yang berorientasi dan bertujuan untuk pemurnian kembali ajaran
Islam. (c) Yang berorientasi pada kejayaan dan sumber budaya bangsa
masing-masing dan yang bersifat nasionalisme.
Tokoh
dan Sasaran Pembaharuan Pendidikan Islam yaitu dilakukan pada tiga wilayah kerajaan besar, yakni Kerajaan Usmani,
Mesir dan India.
Para tokoh pembaharuannya, antara
lain Sultan Ahmad III (1703-1713 M), Mahmud II (1807-1839), Muhammad Ali Pasya (1765-1849 M), Muhammad Abduh, serta Sayyid Ahmad Khan.
REFERENSI
Dra. Zuhairini, dkk. Sejarah
Pendidikan Islam. Jakarta:
Bumi Aksara. 2008.
Prof. Dr. Suwito, MA. Sejarah Sosial Pendidikan Islam.
Jakarta:
Kencana Prenada Media. 2005.
Komentar
Posting Komentar